Detail

Upload By : Administrator | tgl : 08 Nov 2022 00:00:00 | Dilihat 691 Users

Menumbuhkan Minat Baca Siswa

Aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI) menjadi “Kado Istimewa” di Hari Jadi ke-21 Kota Otonom Tanjungpinang

"Duta Baca Indonesia Gol A Gong memberikan materi di acara Safari Literasi Nasional di Auditorium Universitas Jember."

MENUMBUHKAN minat baca di kalangan anak didik (siswa) bukan hanya menjadi tanggungjawab orangtua di rumah, melainkan juga menjadi tanggungjawab pihak sekolah, tempat orangtua mempercayakan putra-putrinya untuk dididik oleh para guru dalam sebuah proses yang dinamakan proses belajar-mengajar. Tanggungjawab pendidik tentu saja tidak boleh hanya bermuara pada proses mengajar dalam pengertian sesempit para guru mengantarkan pengetahuan pada siswa, mengembangkan bakat siswa, membentuk kemampuannya untuk mengerti, memahami, menilai dan menyimpulkan serta mendiskusikan pengetahuan, tetapi perlu juga menyentuh pada substansi yang disebut “perangsangan“ anak didik untuk gemar membaca. Harus jujur diakui, budaya membaca dari para siswa sampai saat ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan di tengah gempuran digitalisasi. Hasil studi UNESCO dan PISA masih memperlihatkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Pada dasarnya pihak sekolah memang bertanggungjawab ikut menumbuhkan minat baca siswanya karena dari sana lah sumber kreativitas siswa akan muncul. Mengajar berarti juga membantu siswa untuk mengembangkan fantasi, empati dan hasrat-hasratnya. Penumbuhan dan pengembangan fantasi, empati dan hasrat siswa tentu saja akan meningkatkan kreativitas. Lantas bagaimana pihak sekolah menyiasati persoalan ini? Bagaimana pihak sekolah membiasakan siswanya dengan buku-buku bacaan edukatif dan bermutu sehingga mampu membantu penumbuhan dan pengembangan fantasi positif, hasrat dan empati mereka?

Apresiasi karya siswa

Di masa lalu penulis berkesempatan mempraktikkan ilmu pedagogi di beberapa kelas di Jerman. Penulis menyibukkan diri dengan praktik mengajar di Sekolah Dasar (Grundschule) hingga Sekolah Menengah Umum (Gymnasium, Realschule dan Oberschule). Ada suasana dan perasaan lain yang penulis serap dan rasakan, ketika sedang memasuki lorong-lorong sekolah dan ruang kelas. Suasana dan perasaan yang tidak pernah penulis rasakan ketika memasuki lorong-lorong sekolah dan ruang kelas di Indonesia. Di sepanjang lorong sekolah terpampang hasil karya siswa entah lukisan, mainan atau hasil karya ketrampilan lainnya yang kreatif dan tersebar di mana-mana, tetapi tetap estetis. Dinding, pintu dan kaca jendela tak luput dari sergapan siswa untuk menampilkan dan menunjukkan hasil kreasinya. Pemandangan di atas sudah menjadi pemandangan sehari-hari, bukan karena sedang ada kunjungan pejabat atau pameran seni dan ketrampilan siswa. Ketika memasuki ruang kelas dan memandang ke seluruh ruang kelas, terpampang jelas pemandangan yang tidak jauh berbeda seperti di lorong-lorong sekolah. Hasil karya siswa tertempel rapi di dinding, di kaca-kaca jendela bahkan tergantung di langit-langit ruangan. Pemandangan yang menyenangkan, apalagi posisi bangku dan meja yang sering diatur penuh variasi dan terkesan komunikatif. Ini bukan ruang taman kanak-kanak, melainkan ruang kelas Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum. Cukup menarik. Namun ada perasaan yang berbeda, ketika kita memandang kebanyakan ruang proses belajar-mengajar di Indonesia. Kehadiran ruangan kelas terkesan kurang komunikatif, terkesan kaku dan serasa tidak menjadi bagian dari diri siswa. Sense of belonging atas kelas dari siswa kurang dikedepankan. Paling-paling yang wajib ditempel di dinding malahan foto presiden, wakil presiden, pahlawan nasional dan karya-karya orang lain, bukannya karya siswa sendiri. Pada dasarnya, hasil kreativitas siswa perlu diapresiasi tidak hanya dengan angka-angka (nilai) oleh para guru dan setelah itu hasil karya mereka disimpan begitu saja di rumah, tetapi perlu juga dinikmati dan diapresiasi oleh siapa saja yang melihatnya dengan dipajang di lorong sekolah atau ruang kelas. Tidak hanya hasil kreativitas yang dinilai guru baik yang dipajang, tetapi semua hasil karya kreativitas siswa entah bagaimanapun hasilnya. Ada nilai positif yang bisa kita peroleh dari pemanjangan karya siswa seperti ini, yaitu penumbuhan sikap percaya diri, sikap bangga akan karya orang lain atau karya sendiri dan penumbuhan sikap mau menghargai karya orang lain. Di samping itu, ada dimensi lain yang secara tidak langsung mau ditampakkan, yaitu dimensi “perangsangan” kreativitas siswa. Hal ini berarti bahwa cara-cara demikian menjadi pemacu fantasi positif dan hasrat siswa untuk terus berkreasi. Satu hal yang lebih menarik dan sangat mengusik perhatian, yaitu apa yang penulis lihat di sudut ruang kelas. Di sudut ruangan dari masing-masing kelas selalu ada rak buku tempat memajang buku-buku bacaan untuk para siswa dari kelas masing-masing. Ada banyak jenis buku seperti: novel, roman, kumpulan puisi, komik, cerita rakyat, biografi tokoh-tokoh internasional, buku-buku kebudayaan dari negara lain dan bahkan beberapa buku pelajaran ikut dipajang.

 

Penumbuhan minat baca

siswa Apa yang ingin dicapai pihak sekolah dengan memajang buku-buku bacaan tersebut di setiap sudut ruang kelas? Ternyata, satu tujuannya ialah keinginan pihak sekolah merangsang para siswa agar gemar membaca. Pihak sekolah memahami benar peran dan tanggungjawabnya untuk membantu siswa dalam memahami betapa pentingnya budaya membaca sejak dini. Pihak sekolah berusaha mendekatkan buku-buku bacaan yang edukatif dan bermutu dengan siswanya. Buku-buku bacaan tidak harus selalu tersimpan rapi di perpustakaan dan pada saat yang sama terjadi bahwa siswa sering malas pergi ke perpustakaan. Perpustakaan sering tampak hanya sebagai gudang buku dan pada praktiknya buku-buku jarang disentuh oleh siswa, apalagi dibaca. Kadang banyak buku yang rusak bukan karena sering dipakai dan dibaca, melainkan karena dimakan rayap. Kisah tragis sebuah buku, yaitu apabila keberadaanya tidak pernah diserap ilmunya dan rusak. Alangkah lebih bijaksananya, apabila buku-buku yang tersimpan rapi akan rusak karena sering dibaca dan disari ilmunya, bukan karena dimakan rayap. Ketertarikan seseorang akan sesuatu muncul salah satunya berawal dari penglihatan. Kehadiran buku-buku bacaan yang dipajang di kelas pertama-tama dimaksudkan sebagai perangsang. Siswa dipancing dengan berbagai jenis buku bacaan bermutu yang sesuai dengan tingkat kemampuan di masing-masing kelas. Sebuah prestasi besar apabila para siswa tertarik melihat dan lantas timbul dalam diri mereka keingintahuan akan isi buku tersebut. Reaksi awal yang demikian pada saatnya akan menggerakkan siswa untuk mendekat, menyentuh dan membolak-balik halaman buku, terlebih apabila sampul buku sungguh sangat menarik. Jika siswa setiap hari dihadapkan pada situasi demikian, akan tiba saatnya siswa tertarik untuk membaca buku-buku bacaan yang dipajang, entah hanya untuk sesaat atau meminjamnya. Ini adalah ide dan siasat yang cukup mengesankan. Sebuah jalan pikiran yang tidak terlalu jelek dan logis juga dari sudut pandang ilmu psikologi. Siswa akhirnya tidak akan merasa asing dengan buku-buku bacaan sejak dari Sekolah Dasar. Di Jerman, siswa boleh membaca buku-buku bacaan tersebut pada saat jam-jam kosong atau kala sedang tidak ada pelajaran. Kalau siswa ingin membawa pulang buku tertentu untuk dibaca di rumah, siswa tinggal menghubungi guru kelas atau seorang siswa yang diberi tanggungjawab untuk mengurusnya (teman kelasnya). Siasat “perangsangan“ di atas adalah satu dari banyak metode agar siswa gemar dan memiliki budaya membaca sejak Sekolah Dasar. Perangsangan demikian merupakan bentuk tanggungjawab instansi sekolah yang ingin melihat anak didiknya menjadi siswa yang memiliki nalar dan daya kreativitas memadai untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan banyak membaca buku-buku bacaan bermutu akan timbul dengan sendirinya daya kreativitas yang tinggi karena kemampuan fantasi, empati dan hasrat siswa yang terus diasah. Tidak mengherankan, banyak hasil karya dan kreativitas siswa terpampang di setiap lorong dan ruang kelas di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum. Satu bentuk siasat yang cukup menarik untuk dipraktikkan di Indonesia, agar siswa memiliki budaya membaca sejak dini dan agar kisah tragis buku-buku bacaan di perpustakaan tidak terus berlanjut. Editor Sandro Gatra

 

sumber :

https://www.kompas.com/

https://www.kompas.com/edu/read/2022/09/14/103805271/menumbuhkan-minat-baca-siswa?page=all